Sabtu, 14 Maret 2009

Kisah Remaja

Ahh..

Sewaktu kokok ayam jantan memanggil betinanya, dari teriakan itu seolah tak mau kehilangan walau untuk sesaat dan sekejap. Pagi ini berbeda sekali, aku terbangun dengan penuh kesadaran dalam hatiku, tapi pikiranku tidak berada di tempat, banyak pikiran berkecamuk. Mata sudah terbuka, tapi hati berkata, enggan untuk beranjak dari tidur yang melelahkan.

Selain kokok ayam jantan, aku juga mendengar ocehan burung-burung yang berniat menyambut pagi, tetapi itu hanya mengusik pagiku saja. Bahkan celoteh manusia-manusia tanpa rasa belas kasihan untuk membiarkan aku terlelap sepagian ini, juga terdengar sangat jelas ditelingaku. Semua terasa asing bagiku, ini bukan tempat aku biasa merebahkan tubuhku.

Aku ingin tau dimana aku sedang terbaring sekarang, tetapi aku sedang memikirkan kejadian semalam yang benar-benar tidak bisa aku lupakan, semuanya masih terpampang jelas dipelupuk mataku, kejadian dalam mimpi yang mengejutkan. Lalu sekarang aku harus kembali dalam dunia maya yang tak jauh beda.

5 menit berlalu, aku masih terpaku, diam melamun. Tak ada gerakan yang pasti dari tubuhku, yang ada adalah gerakan tanpa aturan di dalam selimutku untuk mengusir rasa dingin yang menusuk sekujur tulang-tulangku, ” ah…curut, kenapa pagi ini dingin sekali? Selimut saja belum cukup menghangat tubuhku”

15 menit kemudian aku masih tertatih-tatih untuk menyadarkan diri bahwa mimpi telah usai, yang ada kini dunia sebenarnya. Dunia yang membosankan bagiku, dan bagi beberapa orang yang sependapat denganku.

Percuma, karena sudah hampir sejam aku hanya memandang jam di tembok yang bisanya cuma berputar. Entah jamnya atau jarumnya yang berputar, tapi aku merasa sebenarnya otakku yang berputar, untuk mengingat alunan musik jazz yang dimainkan segerombol orang aneh di Café tadi malam sebelum aku tertidur untuk beberapa menit, suaranya seperti kicau burung 15 menit yang lalu.

Sungguh, semua itu membuat aku pening. Wanita yang aku temui di taman, kami hanya sempat ngobrol beberapa kata lalu dia mengajakku ke café yang remang-remang, ”Malam ini rasanya lebih dingin dari kemarin ya? Lebih enak kalau kita ngobrol sambil minum di café dekat sini, gak terkenal sih, tapi lumayan asik buat ngobrol.” Kata-kata yang seperti itu, membuat dia seolah sudah terbiasa dan sering nongkrong di tempat itu, sebelumnya dia bilang cuma mau minum sambil ngobrol, tapi ternyata aku dibuat terkapar duluan oleh rayuannya saat minum di café itu,

Tanpa sadar aku sudah bersamanya di kamar ini. Tadi beberapa waktu yang lalu, saat mimpi membangunkanku dari tidur yang gelisah, aku melihat dia tidur dalam dekapanku. Tepatnya kepala wanita itu ada di atas dadaku.

Saat kulihat dalam selimut ternyata kita sudah tanpa kain sehalaipun, aku baru sadar kalau dingin yang kurasakan dari tadi karena yang ada hanya selimut dan wanita ini sebagai penghalang dingin pagi ini.

Pelan-pelan aku memindahkan kepalannya dari dadaku, tapi terbangun juga wanita itu, dia menarik tanganku untuk tidur lagi, rengekannya membuatku tak bisa menolak pintanya, “sayang…mau kemana, ini masih pagi kan? Aku butuh kamu, kepalaku masih pening.”

Yah, terpaksa aku turuti kemauannya, karena sebenarnya aku juga masih merasa pening karena pengaruh alkohol yang kami minum semalam. Di benakku aku berkata, ”ah…aku terjerat dalam dosa ternikmat.” Sebuah kenikmatan yang tak terkira, karena sudah sekian lama sejak aku berpisah dengan istri kelimaku beberapa bulan yang lalu. Aku tidak pernah lagi merasakan nikmatnyanya rengekan wanita manja.

Seharian kita hanya berduaan, hanya berdua, makan diantar oleh pelayan. Mandi juga berdua. Banyak hal yang kita omongkan, dari masalah sosial politik hingga masalah pribadi yang sangat dalam.

Kita memang baru semalam, tapi terasa ada de javu dalam benak kita, wanita itu bernama Mytha. Wanita berumur 25-an yang ternyata adalah gundik dari pengusaha terkaya di kota ini, entah mengapa semalam kita mengobrol dan merasa cocok lalu kita ngobrol sambil minum, hinggga aku lupa kenapa kita bisa satu ranjang dan melakukan hal di luar pikiran seperti ini. Kata Mytha, “yang sudah ya sudah dong, iya kan? Toh kita juga senang. Gak ada yang merasa rugi kan?”

Yang ada dibenakku hanya bualan bodoh, “Kurasa aku seperti kupu-kupu di padang pasir yang dengan tiba-tiba menemukan sekuntum bunga segar, dahaga sudah tidak terasa, kutemukan sumber mata air menyejukkan, wanita yang mengobati hausku akan keindahan dunia terpendam.

***

Akhirnya sepuntung rokok terakhir sudah habis, hampir tiga jam aku duduk di kursi taman. Penat yang kurasakan, terasa panas pantatku, akhirnya aku berdiri, sekalian untuk melihat apakah ada penjual rokok yang lewat atau tidak, dan tentunya mencari-cari dimana orang yang katanya mau bertemu denganku siang itu.

Setelah tragedi tak terlupakan beberapa tahun lalu dengan Mytha, dia ketagihan, untuk bermesraan lagi denganku, hingga dia mempromosikanku sebagai bodyguard-nya. Untuk menjaganya, agar kita bisa selalu bersamanya. Dan bisa bermesraan dengannya setiap saat dia kesepian.

Hal itu yang menyeretku kedalam lembah kenistaan ini, pekerjaaan yang selalu aku benci dari kecil. Dibenci juga oleh orang tua dan saudara-saudaraku, pekerjaan sebagai penjahat keji tak punya nurani.

Karena Mytha, aku menjadi tangan kanan kekasihnya, seorang pengusaha terkaya di kota ini, menjadi orang yang di percaya untuk melenyapkan saingan-saingan bisnisnya. Aku harus menjadi pembunuh berdarah dingin, membunuh orang yang tidak pernah ada dosa terhadapku.

Hal paling tragis adalah saat aku harus membunuh Mytha, sebagai sebuah tugas dari Bos besar. Alasan paling mendasar yang aku ketahui adalah istri Bos yang sudah curiga dengan kisah perselingkuhannya bersama Mytha. Terpaksa, beberapa bulan yang lalu aku harus membunuh Mytha setelah kita bergumul dalam kenikmatan tak terkira, “maaf sayang, kisah kita sudah selesai. Kamu harus pergi karena ini adalah tugasku untuk…”

Itu adalah kata terakhir yang aku bisikkan ke telinganya saat dia sedang mencapai puncak birahinya, dan aku menusukkan belatiku tepat di jantungnya. Bersama dengan kepuasan yang dia dapat, aku membunuhnya begitu saja.

Yang aku rasa, dia mengerang karena kenikmatan dan juga sakit yang bersamaan. “apakah aku terlalu keji? Apakah aku tidak bermoral? Mungkin wanita jalang sepertinya tidak punya HAM…?”

Sampai saat ini, aku masih teringat kata-kata Mytha usai kita pertama kali melewati malam bersama, ” Yang sudah ya sudah dong, iya kan? Toh kita juga senang. Gak ada yang merasa rugi kan?” Iya, memang benar yang sudah ya sudah, asal kita senang. Kurasa sekarang dia juga senang, terlepas sebagai simpanan laki-laki tua yang tak pernah puas dengan satu wanita.

Aku selalu menyindirnya, menggunjing laki-laki tua yang menjadi Bos-ku saat ini. Padahal aku juga tak jauh berbeda dengan dia, aku juga punya lima istri, tapi setidaknya aku lebih manusiawi, aku menikahi mereka walau tidak menafkahi mereka.

Lamunanku buyar, saat dari kejauhan datang dua orang berpakaian serba hitam lengkap dengan jaket kulit besar. Terlihat bahwa mereka sama sepertiku bajingan tengik yang tak punya hati. Aku berdiri menyambut mereka, sedikit berbincang.

Tiba-tiba, aku merasa ada yang menembus dada kanan dan kiriku, bergantian tapi cepat. Yang kurasa hanya dingin, lalu aku merasa pening dan semua menjadi hitam, gelap.

“Siapa yang melakukan ini semua? Bos-ku? Kenapa? Apa karena aku dulu bodyguard-nya Mytha? Apa karena aku dekat dengan Mytha? Apa karena aku sering bercinta dengan Mytha? Atau jangan-jangan anak buah orang yang pernah aku bunuh? Atau musuh lamaku? Tapi, dua orang tadi siapa? Ah…Mytha, kuharap kamu memaafkan aku, semoga aku bisa bertemu lagi denganmu, dan kita bercumbu lagi, dalam situasi yang berbeda.”

***

Jogja, 05 - 07 - 2008

23.58

Tidak ada komentar:

Posting Komentar